Cari Blog Ini

Senin, 23 Desember 2013

Cerita Cinta Mimpi (CCM)



Dream’s Love Story
(Bagian ke satu)

Melepas lelah sembari merebahkan tubuh di atas kursi sejenak merasakan heningnya malam itu, begitu sepinya ia rasakan di tengah hiruk pikuk pikirannya yang penuh dengan permasalahan-permasalahan yang datang seharian tadi. Terlintas dalam pikirannya semasa sekolah dulu pada seorang gadis yang selalu membuatnya tak pernah merasa sendiri yang seminggu yang lalu telah menikah dengan orang lain.“Heum ..Mungkin adakah seseorang yang bisa mengobati kesepianku ini.. setidaknya ada tempat berbagi ketika semua terasa sunyi senyap “ seru hatinya. Perlahan ia membangunkan badannya yang seakan tak mau terlepas dari kursi yang empuk itu, dengan sedikit tenaga yang tersisa dia mulai terbangun dan segara mengambil air wudu  untuk sholat isya, setelah selesai salat keheningan malam membawa perasaanya untuk memohon kepada yang kuasa membola-balikan hati manusia agar sedia memberinya pengisi kekosongan hatinya seseorang yang pernah ia kenal dulu yang sampai saat itu hatinya sulit melepasnya, goresan wajahnya masih selalu terlihat dalam bayang-bayang penglihatannya,senyumnya masih terukir jelas dalam ingatannya, “ya Alloh yang berhak mengatur hidupku..ku syukuri apa yg telah kau anungrahkan padaku selama ini.. dengan penuh kerendahan hati hamba memohon kau anugrahkan seseorang yang bisa mengisi hari-hariku dengan senyuman dan canda tawanya seperti yang pernah kau anugrahkan kepadaku sebelumnya..Amien “ ucap bibirnya, dengan wajah memelas dan kening yang sedikit mengkerut serta mata sedikit berkaca-kaca yang mengisyaratkan harapan yang begitu dalam akan sosok yang lama ia rindukan. 
                Waktu itu kelas III SD di sebuah Desa terpencil di Kawasan Bandung yang sekarang menjadi wilayah Bandung Barat.Di setiap sudut kelas terdengar teriakan  dan tertawa  anak-anak di selingi suara  gurunya yang sedang memberikan materi pelajaran “Teeng…tenng…tenng “ suara lonceng dari besi bekas yang telah usang terdengar sangat jelas dari pojok sekolah pertanda istirahat, dengan segera  anak-anak berlarian keluar kelas tampa memperhatikan alat tulisnya yang masih berserakan diatas bangku atau pun menunggu gurunya keluar terlebih dahulu, seketika suasana kelas menjadi hening namun masih sayup-sayup terdengar suara goresan pensil di selingi suara bangku yang sudah hamper roboh  yang seakan mengiringi suara goresan pensil seorang anak yang tengah menyelesaikan tulisannya sambil sesekali matanya menatap tajam kearah goresan kapur tulis yang ada di depannya. Kini keringat terlihat jelas diwajahnya namun ia masih harus tetap menyelesaikan tugasnya agar bisa cepat-cepat bermain dengan temannya, buku sinar dunia berisi 38 lembar yang sudah kucel berwarna kecoklat terkena campuran keringat dan debu dari kedua lengannya yang  ukiran hurupnya jelas kalau ia inigin segera menyelesaikan tulisannya secepat mungkin sambil sesekali menggoreskan penghapus yang sudah hitam di sebelahnya. Saat tengah khusu menulis, terdengar suara langkah kaki di selingi tawa dan suara nyaring yang semakin jelas terdengar menuju ke ruang kelas, namun hal itu tidak dihiraukannya ia masih tetap menatap tulisan di depannya sambil sesekali  menggerakan pensilnya, ketika tulisannya hampir selesai ia berusaha menggerakan secepat mungkin pensil di tangan namun hasilnya banyak yang keliru, sambil menggaruk-garuk kepalanya mencari-cari penghapus yang tadi masih tersimpan atas bangku,saat ia tengah sibuk mencari penghapusnya kini suara kaki dan suara seseorang  pun semakin dekat dan diakhiri dengan bunyi gesekan pintu dari kayu yang telah lapuk yang tengah di buka, sekali lagi hal itu pun tidak diperdulikakannya ia masih fokus mencari  penghapusnya yang hilang namun seketika wajahnya berseri-seri karena ternyata dari tadi penghapusnya berada di bawah bangku, mungkin karena sudah keseringan dipakai penghapus itu sudah mengecil dan hampir bisa di bedakan dengan gumpalan tanah yang senantiasa menempel di sepatu usangnya karena harus melewati tanah pesawahan yang basah setiap kali hendak kesekolah, tampa menunda waktu lagi ia membungkukan badannya untuk mengambil penghapus itu, ketika tangannya hampir meraih penghapus itu, sejenak sesuatu menghentikan gerakannya, sesosok wajah manis  dengan senyuman alami terlihat jelas menatapnya dari bawah meja nampaknya  ia tengah melilitkan tali sepatu nya yang terurai, sosok wajah ini memang tak asing baginya ia adalah teman sekelasnya, siswi perempuan yang paling cantik di kelasnya, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika melihatnya, perasaan aneh yang secara tiba-tiba muncul   di hatinya, namun hal itu tak berlangsung lama ia segera mengambilnya penghapusya dan mengangkat badannya “duuugh” bahunya terbentur bangku di atasnya, seolah tak terjadi apa-apa ia kembali bangun dari bawah bangku dan mulai meneruskan tulisannya hingga selesai dan tampa menunda lagi ia bergegas keluar menuju lapangan sekolah untuk bermain rebonan, permainan kesukaannya bersama temann-temannya.
Tak lama kemudian, terlihat penjaga sekolah berjalan keluar dari kantor menuju pojok  sekolah “teng..teng..teng” bunyi lonceng pun kembali terdengar di seluruh penjuru sekolah menandai waktu istirahat telah usai, dengan  napas yang masih terengah-engah karena habis berlarian, ia pun masuk ke kembali ke kelas dengan perasaan sedikit kecewa karena baru saja ia bergabung dengan teman-temannya untuk bermain harus berhenti dan anak-anak harus sudah musuk kembali kelas masing-masing.
Kini suasana kelas kembali ramai, suara gaduh anak-anakpun menghidupkan kembali suasana kelas yang sunyi, teriakan dan tertawa pun kembali menghiasi sudut-sudut kelas, sisa-sisa keringat pun  masih nampak di wajah mereka sambil sesekali diusap dengan pakaian seragam sekolah yang sudah berwara kecoklatan. Tak lama kamudian , guru pun datang dan seketika suara gaduh pun lenyap yang tersisa hanya bau keringat yang terjemur matahari menambah menjadi pengharum alami ruang kelas sampai jam sekolah berakhir….  
bersambung