Dream’s
Love Story
(Bagian ke satu)
Melepas lelah sembari merebahkan
tubuh di atas kursi sejenak merasakan heningnya malam itu, begitu sepinya ia
rasakan di tengah hiruk pikuk pikirannya yang penuh dengan
permasalahan-permasalahan yang datang seharian tadi. Terlintas dalam pikirannya
semasa sekolah dulu pada seorang gadis yang selalu membuatnya tak pernah merasa
sendiri yang seminggu yang lalu telah menikah dengan orang lain.“Heum ..Mungkin
adakah seseorang yang bisa mengobati kesepianku ini.. setidaknya ada tempat
berbagi ketika semua terasa sunyi senyap “ seru hatinya. Perlahan ia
membangunkan badannya yang seakan tak mau terlepas dari kursi yang empuk itu,
dengan sedikit tenaga yang tersisa dia mulai terbangun dan segara mengambil air
wudu untuk sholat isya, setelah selesai
salat keheningan malam membawa perasaanya untuk memohon kepada yang kuasa
membola-balikan hati manusia agar sedia memberinya pengisi kekosongan hatinya
seseorang yang pernah ia kenal dulu yang sampai saat itu hatinya sulit melepasnya,
goresan wajahnya masih selalu terlihat dalam bayang-bayang
penglihatannya,senyumnya masih terukir jelas dalam ingatannya, “ya Alloh yang
berhak mengatur hidupku..ku syukuri apa yg telah kau anungrahkan padaku selama
ini.. dengan penuh kerendahan hati hamba memohon kau anugrahkan seseorang yang
bisa mengisi hari-hariku dengan senyuman dan canda tawanya seperti yang pernah
kau anugrahkan kepadaku sebelumnya..Amien “ ucap bibirnya, dengan wajah memelas
dan kening yang sedikit mengkerut serta mata sedikit berkaca-kaca yang
mengisyaratkan harapan yang begitu dalam akan sosok yang lama ia rindukan.
Waktu
itu kelas III SD di sebuah Desa terpencil di Kawasan Bandung yang sekarang
menjadi wilayah Bandung Barat.Di setiap sudut kelas terdengar teriakan dan tertawa
anak-anak di selingi suara
gurunya yang sedang memberikan materi pelajaran “Teeng…tenng…tenng “
suara lonceng dari besi bekas yang telah usang terdengar sangat jelas dari
pojok sekolah pertanda istirahat, dengan segera anak-anak berlarian keluar kelas tampa
memperhatikan alat tulisnya yang masih berserakan diatas bangku atau pun
menunggu gurunya keluar terlebih dahulu, seketika suasana kelas menjadi hening
namun masih sayup-sayup terdengar suara goresan pensil di selingi suara bangku
yang sudah hamper roboh yang seakan
mengiringi suara goresan pensil seorang anak yang tengah menyelesaikan
tulisannya sambil sesekali matanya menatap tajam kearah goresan kapur tulis
yang ada di depannya. Kini keringat terlihat jelas diwajahnya namun ia masih
harus tetap menyelesaikan tugasnya agar bisa cepat-cepat bermain dengan
temannya, buku sinar dunia berisi 38 lembar yang sudah kucel berwarna kecoklat terkena
campuran keringat dan debu dari kedua lengannya yang ukiran hurupnya jelas kalau ia inigin segera
menyelesaikan tulisannya secepat mungkin sambil sesekali menggoreskan penghapus
yang sudah hitam di sebelahnya. Saat tengah khusu menulis, terdengar suara
langkah kaki di selingi tawa dan suara nyaring yang semakin jelas terdengar
menuju ke ruang kelas, namun hal itu tidak dihiraukannya ia masih tetap menatap
tulisan di depannya sambil sesekali
menggerakan pensilnya, ketika tulisannya hampir selesai ia berusaha
menggerakan secepat mungkin pensil di tangan namun hasilnya banyak yang keliru,
sambil menggaruk-garuk kepalanya mencari-cari penghapus yang tadi masih
tersimpan atas bangku,saat ia tengah sibuk mencari penghapusnya kini suara kaki
dan suara seseorang pun semakin dekat
dan diakhiri dengan bunyi gesekan pintu dari kayu yang telah lapuk yang tengah
di buka, sekali lagi hal itu pun tidak diperdulikakannya ia masih fokus
mencari penghapusnya yang hilang namun
seketika wajahnya berseri-seri karena ternyata dari tadi penghapusnya berada di
bawah bangku, mungkin karena sudah keseringan dipakai penghapus itu sudah mengecil
dan hampir bisa di bedakan dengan gumpalan tanah yang senantiasa menempel di
sepatu usangnya karena harus melewati tanah pesawahan yang basah setiap kali
hendak kesekolah, tampa menunda waktu lagi ia membungkukan badannya untuk
mengambil penghapus itu, ketika tangannya hampir meraih penghapus itu, sejenak
sesuatu menghentikan gerakannya, sesosok wajah manis dengan senyuman alami terlihat jelas
menatapnya dari bawah meja nampaknya ia
tengah melilitkan tali sepatu nya yang terurai, sosok wajah ini memang tak
asing baginya ia adalah teman sekelasnya, siswi perempuan yang paling cantik di
kelasnya, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika
melihatnya, perasaan aneh yang secara tiba-tiba muncul di hatinya, namun hal itu tak berlangsung
lama ia segera mengambilnya penghapusya dan mengangkat badannya “duuugh”
bahunya terbentur bangku di atasnya, seolah tak terjadi apa-apa ia kembali
bangun dari bawah bangku dan mulai meneruskan tulisannya hingga selesai dan
tampa menunda lagi ia bergegas keluar menuju lapangan sekolah untuk bermain rebonan, permainan kesukaannya bersama
temann-temannya.
Tak lama kemudian, terlihat
penjaga sekolah berjalan keluar dari kantor menuju pojok sekolah “teng..teng..teng” bunyi lonceng pun
kembali terdengar di seluruh penjuru sekolah menandai waktu istirahat telah
usai, dengan napas yang masih
terengah-engah karena habis berlarian, ia pun masuk ke kembali ke kelas dengan
perasaan sedikit kecewa karena baru saja ia bergabung dengan teman-temannya
untuk bermain harus berhenti dan anak-anak harus sudah musuk kembali kelas
masing-masing.
Kini suasana kelas kembali ramai,
suara gaduh anak-anakpun menghidupkan kembali suasana kelas yang sunyi,
teriakan dan tertawa pun kembali menghiasi sudut-sudut kelas, sisa-sisa keringat
pun masih nampak di wajah mereka sambil
sesekali diusap dengan pakaian seragam sekolah yang sudah berwara kecoklatan.
Tak lama kamudian , guru pun datang dan seketika suara gaduh pun lenyap yang
tersisa hanya bau keringat yang terjemur matahari menambah menjadi pengharum
alami ruang kelas sampai jam sekolah berakhir….
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar