Saran-saran yang akan diberikan kepada siswa berdasarkan 3 hukum pembelajaran dari Thorndike. Thorndike mengembangkan 3 hukum pembelajaran berikut dengan penjelasannya menurut Ornstein & Hunkins (2009).
1. Pertama, hukum persiapan yakni ketika suatu unit perintah siap dijalankan, maka sesuatu yang unit perintah tersebut akan menjadi hal yang menyenangkan dan sesuatu yang tidak siap adalah hal yang menjengkelkan. Ketika sistem syaraf siap untuk memerintahkan, akan mengarahkan pada tingkat kepuasan. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: ketika anak dalam kondisi sehat maka ia akan lebih mudah untuk mempelajari suatu materi dibandingkan saat siswa dalam kondisi sakit atau terlalu lelah. Sehingga, perlu bagi guru dan orang tua untuk mengarahkan siswa dalam hal mengelola waktu istirahat dan belajar.
2. Kedua, hukum dari latihan, yakni jumlah perilaku yang dilatih durasi akan memperkuat suatu perilaku. Mengembangkan repetisi/pengulangan, dan melihat kembali perilaku yang dilakukan. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: anak mengikuti latihan soal di sekolah kemudian di rumah anak juga menyempatkan untuk melatih latihan soal di rumah.
3. Ketiga, hukum efek, yakni respon-respon diikuti dengan kepuasan yang menguatkan suatu hubungan; respon-respon yang diikuti ketidaknyamanan akan melemahkan suatu hubungan. Thorndike mengelola bahwa (1) perilaku dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dari pembelajaran. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: lingkungan yang tenang membuat anak lebih mudah untuk konsentrasi; (2) sikap-sikap dan kemampuan-kemampuan pembelajar dapat berkembang sepanjang waktu melalui stimulus yang tepat. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: latihan atau materi belajar yang diberikan sesuai dengan kemampuan anak. Apabila terlalu sulit maka akan menyebabkan anak untuk menolak tugas. Apabila terlalu mudah membuat anak lekas bosan. Oleh karenanya, perlu ada pengamatan kemampuan apa sajakah yang dapat dikembangkan oleh anak. Kemudian, kemampuan dasar apa sajakah yang perlu dikuasai oleh anak.; (3) Sangat penting untuk memilih stimulus dan pengalaman-pengalaman belajar yang diintegrasikan, konsisten, saling menguatkan. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: Materi yang dipelajari dapat dihubungkan dengan situasi sederhana sehari-hari, siswa diberi materi dengan tingkat kesulitan tinggi namun dengan catatan siswa telah benar-benar menguasai konsep-konsep pemikiran suatu teori.
Berikut aplikasi sederhana mengenai refleksi diri yang kiranya dapat dilakukan oleh siswa berdasarkan konsep Thorndike di atas. Materi membutuhkan kertas dan alat tulis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut:
1. Silahkan mengarang, kegiatan yang saya lakukan untuk mempersiapkan UN. Saya…, saya…, saya…
Pada tema ini, guru dapat memberikan contoh kalimat: Saya mengikuti les setiap hari Senin dan Selasa, Ketika saya merasa lelah saya akan beristirahat sejenak kemudian melanjutkan latihan soal, dan lain sebagainya.
Setelah siswa menyelesaikan nomor 1, maka siswa diminta untuk melakukan analisis kemampuan diri sendiri pada 3 bidang studi yang akan diujikan saat UN.
2. a. Pelajaran Matematika
Saya bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran matematika ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya bisa mengerjakan soal FPB dan KPK dengan baik.
Saya tidak bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran matematika ini, guru dapat memmberikan contoh kalimat seperti: Saya tidak bisa mengerjakan soal cerita.
b. Pelajaran Bahasa Indonesia
Saya bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran Bahasa Indonesia ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya dapat memahami paragraf dengan baik.
Saya tidak bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran Bahasa Indonesia ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya perlu waktu untuk memahami dalam memberikan jawaban pada paragraf.
c. IPA
Saya bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran IPA ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya dapat membedakan tanaman dikotil dan monokotil.
Saya tidak bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran IPA ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya merasa kesulitan dalam mengurutkan metamorfosis kupu-kupu.
Setelah siswa selesai mengerjakan nomor 2 maka siswa dapat dituntun untuk mengerjakan mengenai jadwal belajar yang telah ia miliki, apabila siswa belum memiliki maka ia disarankan untuk menyusun jadwal belajar yang akan ia lakukan untuk persiapan menjelang UN.
3. Jadwal Belajar
Senin…; Selasa…; Rabu…; Kamis…; Jum’at…; Sabtu…; Minggu…
Guru dapat memberikan pengarahan rinci kepada siswa mengenai berapa lama siswa belajar, sebagai contoh: 30 menit- 1 jam untuk materi yang mudah; 45 menit- 1,5 jam untuk materi yang sulit. Berapa banyak siswa mengerjakan soal, sebagai contoh: 10-25 soal.
Setelah anak menyelesaikan materi di atas, anak diminta bercerita di depan kelas. Apabila anak enggan untuk menceritakan hasil tulisannya di depan kelas maka anak dapat menyimpan tulisan tersebut atau guru dapat mengajak dialog dilain waktu. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membekali diri anak sebuah rasa percaya diri bahwa ia masih memiliki keterampilan yang mampu ia lakukan menjelang UN. Minimal, sebelum UN, siswa mengetahui kelebihan yang ia miliki. Sehingga, siswa dapat merasa bahwa ia maju menghadapi UN dengan bekal keterampilan yang telah ia pelajari.
Kekurangan yang ditemukan oleh siswa sebagai refleksi untuk menggunakan kesempatan waktu yang masih tersedia. Siswa juga diingatkan bahwa ia perlu menenangkan hatinya harapannya agar siswa mampu memproses informasi yang telah ia pelajari saat menghadapi UN. Guru dapat memberikan contoh pertanyaan refleksi seperti “…apabila kita tergesa-gesa atau merasa takut mengerjakan soal, apakah kita mampu untuk mengingat dengan baik latihan soal atau rumus yang telah kita pelajari?” Guru juga dapat membagi pengalaman seperti “…dahulu, saat saya mengerjakan soal matematika dengan rasa takut, saya sulit mengingat rumus. Kemudian, saat saya memutuskan untuk berkata kepada diri sendiri bahwa soal ini sulit dan saya membutuhkan waktu lebih lama menyelesaikannya, saya menjadi lebih tenang.”
Konsep yang perlu diberikan kepada siswa adalah kesediaan siswa dalam menerima proses psikologis yang ia alami saat ia menghadapi suatu materi (merasa takut, merasa tidak bisa, merasa sulit dan lain sebagainya), kemudian bersedia untuk mencari solusi, dan beradaptasi dengan solusi yang ia temukan. Artinya, solusi yang ia temukan juga membutuhkan penyesuaian lama pengerjaan, intensitas ketelitian dan lain sebagainya
Kemudian, mengenai pengaturan tujuan yang hendak dicapai oleh anak. Hal yang paling berat adalah berkata jujur kepada anak dalam mengatur strategi. Beberapa anak mungkin memiliki rata-rata di bawah 6, kemudian ia memasang target rata-rata hingga mencapai 8. Apakah dalam jangka waktu sekian hari anak mampu mencapai target tersebut, tidak ada yang tahu. Oleh karenanya, guru dapat memberikan bimbingan dalam menyusun nilai rata-rata UN yang hendak dicapai, misalnya semula rata-rata di bawah 6 kemudian mencapai 6,5. Kemudian, anak diingatkan apabila tujuan hasil akhir atau nilai rata-rata UN membuat konsentrasi anak terpecah, maka anak diarahkan untuk tujuan yang lainnya seperti tujuan untuk teliti, tujuan melatih perasaan agar lebih tenang dalam menyambut UN.
Setelah guru selesai berdialog dengan siswa, guru dapat menutup sesi dengan berdoa bersama. Saat berdoa bersama, guru dapat menjelaskan bahwa maksud doa ini adalah untuk melatih anak berkata positif kepada dirinya. Kemudian, sarankan kepada anak untuk menghindari kata “harus”. Karena makna kata tersebut menimbulkan stress atau menambah tekanan psikologis pada diri anak. Anak-anak perlu menyadari bahwa dirinya sudah terbebani oleh kata “harus” berkaitan dalam persiapan UN, olehkarenanya anak-anak perlu diingatkan juga bahwa ia perlu memberi kesempatan pada dirinya sedikit “ruang bebas” dalam hati untuk menghadapi UN. Terdapat instruksi yang sekiranya dapat diberikan kepada anak, yaitu:
1. Anak dapat diminta untuk mengatur nafas seperti “…tarik nafas, keluarkan nafas lewat mulut.”
2. Anak-anak dapat mengatur nafas mereka, instruksi selanjutnya adalah meminta anak untuk berkata positif kepada dirinya seperti “…saya persilahkan anak-anak untuk memulai doa pribadi, ucapkan perkataan positif kepada diri kalian seperti saya bersedia untuk menenangkan hati saya dalam menyambut UN, keterampilan yang telah aku miliki dan keterampilan yang sedang aku pelajari akan membantuku dalam persiapan UN …”.
3. Setelah anak-anak merasa cukup mengungkapkan doa mereka maka anak-anak dapat dipersilahkan untuk membuka mata. Contoh instruksi: “….Apabila doa pribadi kalian dirasa sudah cukup maka saya persilahkan membuka mata sembari mengatur nafas pada hitungan ke-3; guru mengucapkan 1, 2, 3…silahkan membuka mata sembari tetap mengatur nafas”.
4. Akhir sesi, guru dapat membahas atau memberi pesan-pesan positif kepada siswa.
Mudah-mudahan tips sederhana ini dapat digunakan oleh wali kelas, guru, konselor sekolah, pendamping les privat anak dalam rangka bahan dialog guna mempersiapkan kondisi psikologis siswa SD menjelang Ujian Nasional. Langkah-langkah di atas dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan wali kelas, guru, konselor kelar, pendamping les privat anak.
Referensi:
Ornstein, A. C. Hunkins, F. P. (2009). Curriculum: foundations, principles, and issues (5th ed.). MA: Pearson.
