Cari Blog Ini

Minggu, 10 Mei 2015

PERSIAPAN UN TINGKAT SD/MI

Hasil gambar untuk ujian SDUjian Nasional (UN) untuk tingkat Sekolah Dasar akan kita sambut sebentar lagi. Terdapat berbagai macam perasan yang dialami oleh orang tua, guru dan anak. Penulis memiliki beberapa saran untuk membantu persiapan psikologis siswa kelas 6 Sekolah Dasar.

Saran-saran yang akan diberikan kepada siswa berdasarkan 3 hukum pembelajaran dari Thorndike. Thorndike mengembangkan 3 hukum pembelajaran berikut dengan penjelasannya menurut Ornstein & Hunkins (2009).
1. Pertama, hukum persiapan yakni ketika suatu unit perintah siap dijalankan, maka sesuatu yang unit perintah tersebut akan menjadi hal yang menyenangkan dan sesuatu yang tidak siap adalah hal yang menjengkelkan. Ketika sistem syaraf siap untuk memerintahkan, akan mengarahkan pada tingkat kepuasan. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: ketika anak dalam kondisi sehat maka ia akan lebih mudah untuk mempelajari suatu materi dibandingkan saat siswa dalam kondisi sakit atau terlalu lelah. Sehingga, perlu bagi guru dan orang tua untuk mengarahkan siswa dalam hal mengelola waktu istirahat dan belajar.
2. Kedua, hukum dari latihan, yakni jumlah perilaku yang dilatih durasi akan memperkuat suatu perilaku. Mengembangkan repetisi/pengulangan, dan melihat kembali perilaku yang dilakukan. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: anak mengikuti latihan soal di sekolah kemudian di rumah anak juga menyempatkan untuk melatih latihan soal di rumah.
3. Ketiga, hukum efek, yakni respon-respon diikuti dengan kepuasan yang menguatkan suatu hubungan; respon-respon yang diikuti ketidaknyamanan akan melemahkan suatu hubungan. Thorndike mengelola bahwa (1) perilaku dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dari pembelajaran. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: lingkungan yang tenang membuat anak lebih mudah untuk konsentrasi; (2) sikap-sikap dan kemampuan-kemampuan pembelajar dapat berkembang sepanjang waktu melalui stimulus yang tepat. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: latihan atau materi belajar yang diberikan sesuai dengan kemampuan anak. Apabila terlalu sulit maka akan menyebabkan anak untuk menolak tugas. Apabila terlalu mudah membuat anak lekas bosan. Oleh karenanya, perlu ada pengamatan kemampuan apa sajakah yang dapat dikembangkan oleh anak. Kemudian, kemampuan dasar apa sajakah yang perlu dikuasai oleh anak.; (3) Sangat penting untuk memilih stimulus dan pengalaman-pengalaman belajar yang diintegrasikan, konsisten, saling menguatkan. Dari pernyataan teori tersebut, penulis memberikan contoh: Materi yang dipelajari dapat dihubungkan dengan situasi sederhana sehari-hari, siswa diberi materi dengan tingkat kesulitan tinggi namun dengan catatan siswa telah benar-benar menguasai konsep-konsep pemikiran suatu teori.
Berikut aplikasi sederhana mengenai refleksi diri yang kiranya dapat dilakukan oleh siswa berdasarkan konsep Thorndike di atas. Materi membutuhkan kertas dan alat tulis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut:
1. Silahkan mengarang, kegiatan yang saya lakukan untuk mempersiapkan UN. Saya…, saya…, saya…
Pada tema ini, guru dapat memberikan contoh kalimat: Saya mengikuti les setiap hari Senin dan Selasa, Ketika saya merasa lelah saya akan beristirahat sejenak kemudian melanjutkan latihan soal, dan lain sebagainya.
Setelah siswa menyelesaikan nomor 1, maka siswa diminta untuk melakukan analisis kemampuan diri sendiri pada 3 bidang studi yang akan diujikan saat UN.
2. a. Pelajaran Matematika
Saya bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).

Pada tema pelajaran matematika ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya bisa mengerjakan soal FPB dan KPK dengan baik.
Saya tidak bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran matematika ini, guru dapat memmberikan contoh kalimat seperti: Saya tidak bisa mengerjakan soal cerita.
b. Pelajaran Bahasa Indonesia
Saya bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran Bahasa Indonesia ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya dapat memahami paragraf dengan baik.
Saya tidak bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran Bahasa Indonesia ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya perlu waktu untuk memahami dalam memberikan jawaban pada paragraf.
c. IPA
Saya bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran IPA ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya dapat membedakan tanaman dikotil dan monokotil.
Saya tidak bisa…(5-10 materi, dapat dicuplik dari kisi-kisi UN).
Pada tema pelajaran IPA ini, guru dapat memberikan contoh kalimat seperti: Saya merasa kesulitan dalam mengurutkan metamorfosis kupu-kupu.
Setelah siswa selesai mengerjakan nomor 2 maka siswa dapat dituntun untuk mengerjakan mengenai jadwal belajar yang telah ia miliki, apabila siswa belum memiliki maka ia disarankan untuk menyusun jadwal belajar yang akan ia lakukan untuk persiapan menjelang UN.
3. Jadwal Belajar
Senin…; Selasa…; Rabu…; Kamis…; Jum’at…; Sabtu…; Minggu…
Guru dapat memberikan pengarahan rinci kepada siswa mengenai berapa lama siswa belajar, sebagai contoh: 30 menit- 1 jam untuk materi yang mudah; 45 menit- 1,5 jam untuk materi yang sulit. Berapa banyak siswa mengerjakan soal, sebagai contoh: 10-25 soal.
Setelah anak menyelesaikan materi di atas, anak diminta bercerita di depan kelas. Apabila anak enggan untuk menceritakan hasil tulisannya di depan kelas maka anak dapat menyimpan tulisan tersebut atau guru dapat mengajak dialog dilain waktu. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membekali diri anak sebuah rasa percaya diri bahwa ia masih memiliki keterampilan yang mampu ia lakukan menjelang UN. Minimal, sebelum UN, siswa mengetahui kelebihan yang ia miliki. Sehingga, siswa dapat merasa bahwa ia maju menghadapi UN dengan bekal keterampilan yang telah ia pelajari.
Kekurangan yang ditemukan oleh siswa sebagai refleksi untuk menggunakan kesempatan waktu yang masih tersedia. Siswa juga diingatkan bahwa ia perlu menenangkan hatinya harapannya agar siswa mampu memproses informasi yang telah ia pelajari saat menghadapi UN. Guru dapat memberikan contoh pertanyaan refleksi seperti “…apabila kita tergesa-gesa atau merasa takut mengerjakan soal, apakah kita mampu untuk mengingat dengan baik latihan soal atau rumus yang telah kita pelajari?” Guru juga dapat membagi pengalaman seperti “…dahulu, saat saya mengerjakan soal matematika dengan rasa takut, saya sulit mengingat rumus. Kemudian, saat saya memutuskan untuk berkata kepada diri sendiri bahwa soal ini sulit dan saya membutuhkan waktu lebih lama menyelesaikannya, saya menjadi lebih tenang.”
Konsep yang perlu diberikan kepada siswa adalah kesediaan siswa dalam menerima proses psikologis yang ia alami saat ia menghadapi suatu materi (merasa takut, merasa tidak bisa, merasa sulit dan lain sebagainya), kemudian bersedia untuk mencari solusi, dan beradaptasi dengan solusi yang ia temukan. Artinya, solusi yang ia temukan juga membutuhkan penyesuaian lama pengerjaan, intensitas ketelitian dan lain sebagainya
Kemudian, mengenai pengaturan tujuan yang hendak dicapai oleh anak. Hal yang paling berat adalah berkata jujur kepada anak dalam mengatur strategi. Beberapa anak mungkin memiliki rata-rata di bawah 6, kemudian ia memasang target rata-rata hingga mencapai 8. Apakah dalam jangka waktu sekian hari anak mampu mencapai target tersebut, tidak ada yang tahu. Oleh karenanya, guru dapat memberikan bimbingan dalam menyusun nilai rata-rata UN yang hendak dicapai, misalnya semula rata-rata di bawah 6 kemudian mencapai 6,5. Kemudian, anak diingatkan apabila tujuan hasil akhir atau nilai rata-rata UN membuat konsentrasi anak terpecah, maka anak diarahkan untuk tujuan yang lainnya seperti tujuan untuk teliti, tujuan melatih perasaan agar lebih tenang dalam menyambut UN.
Setelah guru selesai berdialog dengan siswa, guru dapat menutup sesi dengan berdoa bersama. Saat berdoa bersama, guru dapat menjelaskan bahwa maksud doa ini adalah untuk melatih anak berkata positif kepada dirinya. Kemudian, sarankan kepada anak untuk menghindari kata “harus”. Karena makna kata tersebut menimbulkan stress atau menambah tekanan psikologis pada diri anak. Anak-anak perlu menyadari bahwa dirinya sudah terbebani oleh kata “harus” berkaitan dalam persiapan UN, olehkarenanya anak-anak perlu diingatkan juga bahwa ia perlu memberi kesempatan pada dirinya sedikit “ruang bebas” dalam hati untuk menghadapi UN. Terdapat instruksi yang sekiranya dapat diberikan kepada anak, yaitu:
1. Anak dapat diminta untuk mengatur nafas seperti “…tarik nafas, keluarkan nafas lewat mulut.”
2. Anak-anak dapat mengatur nafas mereka, instruksi selanjutnya adalah meminta anak untuk berkata positif kepada dirinya seperti “…saya persilahkan anak-anak untuk memulai doa pribadi, ucapkan perkataan positif kepada diri kalian seperti saya bersedia untuk menenangkan hati saya dalam menyambut UN, keterampilan yang telah aku miliki dan keterampilan yang sedang aku pelajari akan membantuku dalam persiapan UN …”.
3. Setelah anak-anak merasa cukup mengungkapkan doa mereka maka anak-anak dapat dipersilahkan untuk membuka mata. Contoh instruksi: “….Apabila doa pribadi kalian dirasa sudah cukup maka saya persilahkan membuka mata sembari mengatur nafas pada hitungan ke-3; guru mengucapkan 1, 2, 3…silahkan membuka mata sembari tetap mengatur nafas”.
4. Akhir sesi, guru dapat membahas atau memberi pesan-pesan positif kepada siswa.
Mudah-mudahan tips sederhana ini dapat digunakan oleh wali kelas, guru, konselor sekolah, pendamping les privat anak dalam rangka bahan dialog guna mempersiapkan kondisi psikologis siswa SD menjelang Ujian Nasional. Langkah-langkah di atas dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan wali kelas, guru, konselor kelar, pendamping les privat anak.
Referensi:
Ornstein, A. C. Hunkins, F. P. (2009). Curriculum: foundations, principles, and issues (5th ed.). MA: Pearson.

Sabtu, 09 Mei 2015

Dilematika Ujian Nasional

 Ujian Nasional, Ujian Nasib?


Bicara soal kekurangan dari Ujian Nasional itu sendiri, tentu saja ada banyak sekali kekurangan yang kita dapati. Mulai dari ketidak merataan-nya soal pada setiap paket. Ya, menciptakan 20 paket bukannya adil menurut saya. Tahun kemarin, saya sudah melihat betapa tidak meratanya tingkat kesulitan soal pada tiap paket, apalagi pada tahun ini, yang katanya UN-nya berstandar Internasional. Sadarkah para pembuat soal, sadarkah Mendikbud akan hal ini? Mudahkan membuat 20 soal dengan 1 materi yang sama dengan tingkat kesulitan soal yang sama persis? Saya rasa mustahil. Ya, mustahil sekali bisa membuat soal dengan tingkat kesulitan yang sama, apalagi jika soal yang diuji adalah tipe soal hafalan (seperti biologi).
Kekurangan kedua, UN sangat rentan terhadap kebocoran. YA, UN ITU PENUH DENGAN KEBOHONGAN, PENUH DENGAN KETIDAKJUJURAN. Jujur, saya tertawa ketika membaca sebuah berita yang isinya adalah Menteri Pendidikan tidak percaya kalau UN bisa bocor, padahal sudah 20 paket soal. Sadarkah bapak, bapak hanya mencoba menipu diri bapak sendiri? Wajar saya tertawa, saya sendiri sudah bosan melihat dan terlibat didalamnya. Mulai dari direcanakan menjawab 20 paket soal untuk bidang mat, fis dan kimia, sampai disuruh memeriksa kebenaran kunci jawaban yang diterima teman-teman, saya sudah pernah merasakannya. Jujur, saya cuma bisa tertawa terbahak-bahak, sambil menatap kondisi yang menyedihkan ini. Sesungguhnya, memeriksa kebenaran kunci jawaban juga sudah merupakan dosa besar yang harus saya tanggung, tapi jujur, saya sendiri tidak rela melihat teman-teman tidak lulus. Gampangnya, saya sendiri juga ingin dapat nilai bagus, meskipun akhirnya saya tidak menggunakan kunci jawaban, maupun menjadi tim penjawab soal karena soalnya tidak kunjung datang. Ya, saya juga manusia, sangat mudah untuk tergiur dengan hal-hal seperti ini. Setelah UN selesai dan saya mencoba merefleksikannya, saya baru menyadari, betapa UN dan sistem pendidikan telah mengubah saya menjadi orang yang biadab, yang menghalalkan segala cara untuk meraih nilai tertinggi. Jujur, soal UN ini, dulu kelas saya sampai bahkan berniat membeli kunci jawaban karena takut tidak lulus. Saya tidak setuju sesungguhnya, namun saya juga sadar, tanpa kunci jawaban, lebih dari setengah murid” bisa tidak lolos, jadi saya ikut membayar. Meskipun akhirnya soal kunci jawaban ini tidak jadi, namun tetap saja, UN telah mengubah kami semua mejadi biadab, menganggap mencontek adalah hal wajar yang tidak perlu diributkan, membuat kami rela melakukan apa saja agar mendapat nilai baik, dan ironisnya, membuat sebagian besar teman-teman saya malas-malasan sebelum UN karena merasa yakin kunci jawaban akan datang. Apakah bapak pernah menyadari hal ini?
UN juga selain mengubah kami, para siswa juga mengubah para guru. Berapa banyak guru-guru yang bersekongkol membeli soal dan mengerjakannya, serta membagi jawabannya kepada para murid agar mereka lolos? Mereka tahu itu dosa, mereka hanya tidak tega kami gagal, mereka tidak tega jabatan mereka lepas dan sebagainya. Apakah Bapak Menteri tahu akan hal ini? Betapa besar tekanan yang mereka harus terima hanya karena ujian 3-4 hari saja.
Hal terakhir, pendidikan negeri ini sungguhlah belum merata. Bapak mungkin percaya kalau ada yang bilang UN itu mudah, tapi apakah bapak tahu, anak-anak dari pedalaman, anak-anak yang bukan dari kota-kota besar di Jawa, Sumatera dan Bali kesulitan mengerjakan soal-soal itu? Tahukan keterbatasan buku di daerah-daerah terpencil? Tahukah kalau guru-guru yang mengajar kami kemampuannya belum memadai, bahkan ada guru yang ketika disuruh mengerjakan soal UN juga berkata kalau dia tidak bisa? Sadarkah akan hal itu? Hal-hal seperti inilah yang justru memancing kami para siswa membuat kecurangan. Secara kasar saya katakan, UN telah mengubah kami menjadi siswa abal-abal, yang berpikir contekan akan menyelesaikan masalah dan berpikir ilmu tidaklah penting. Sadarkah bapak kalau sistem UN saat ini membuat kami tidak menyukai belajar, membuat kami benci belajar, benci dengan para guru, dan benci dengan negeri ini? Sadarkan Bapak Menteri Pendidikan dan semua orang yang mendukung UN?
Saya, bukannya tidak setuju UN ada, menurut saya UN itu perlu, sebagai indikasi kemahiran suatu daerah. UN memang tujuannya baik kan, tapi kita perlu mengubah sistem UN dan sistem pendidikan yang ada saat ini. Seandainya tidak ada UN, saya pikir, kita semakin hancur. Berapa banyak guru yang mengajar secara asal-asalan? Saya sudah bosan melihat hal itu, melihat guru-guru yang saling menjual nilai dan soal ujian, yang dengan sengaja membuat nilai seorang anak rendah hanya karena anak tersebut memilih untuk tidak les kepada guru tersebut. Saya sudah bosan, melihat sistem pendidikan seperti ini. Maafkan saya, jika ada yang tersinggung, dan yang merasa tidak melakukan hal-hal seperti ini, tapi inilah kenyataan yang saya lihat, yang pernah saya rasakan. Saya sudah bosan dengan semua itu. Oleh sebab itu, saya merasa, UN tetap harus ada, namun sistem pendidikan kitalah yang harus diubah. Bukankah negara-negara maju seperti singapura dan korea selatan yang meraih peringkat 5 besar PISA juga memiliki sistem Ujian berstandar Nasional? Pertanyaannya, mengapa mereka bisa sukses sementara kita tidak? Intinya sederhana, kita hanya perlu mengubah sistem pendidikan kita, yang lebih mengarahkan kepada bakat dan kemampuan anak. Jangan sampai selamanya kita terjebak bahwa meraih nilai tertinggi berarti dialah yang terbaik :)