Cari Blog Ini

Sabtu, 09 Mei 2015

Dilematika Ujian Nasional

 Ujian Nasional, Ujian Nasib?


Bicara soal kekurangan dari Ujian Nasional itu sendiri, tentu saja ada banyak sekali kekurangan yang kita dapati. Mulai dari ketidak merataan-nya soal pada setiap paket. Ya, menciptakan 20 paket bukannya adil menurut saya. Tahun kemarin, saya sudah melihat betapa tidak meratanya tingkat kesulitan soal pada tiap paket, apalagi pada tahun ini, yang katanya UN-nya berstandar Internasional. Sadarkah para pembuat soal, sadarkah Mendikbud akan hal ini? Mudahkan membuat 20 soal dengan 1 materi yang sama dengan tingkat kesulitan soal yang sama persis? Saya rasa mustahil. Ya, mustahil sekali bisa membuat soal dengan tingkat kesulitan yang sama, apalagi jika soal yang diuji adalah tipe soal hafalan (seperti biologi).
Kekurangan kedua, UN sangat rentan terhadap kebocoran. YA, UN ITU PENUH DENGAN KEBOHONGAN, PENUH DENGAN KETIDAKJUJURAN. Jujur, saya tertawa ketika membaca sebuah berita yang isinya adalah Menteri Pendidikan tidak percaya kalau UN bisa bocor, padahal sudah 20 paket soal. Sadarkah bapak, bapak hanya mencoba menipu diri bapak sendiri? Wajar saya tertawa, saya sendiri sudah bosan melihat dan terlibat didalamnya. Mulai dari direcanakan menjawab 20 paket soal untuk bidang mat, fis dan kimia, sampai disuruh memeriksa kebenaran kunci jawaban yang diterima teman-teman, saya sudah pernah merasakannya. Jujur, saya cuma bisa tertawa terbahak-bahak, sambil menatap kondisi yang menyedihkan ini. Sesungguhnya, memeriksa kebenaran kunci jawaban juga sudah merupakan dosa besar yang harus saya tanggung, tapi jujur, saya sendiri tidak rela melihat teman-teman tidak lulus. Gampangnya, saya sendiri juga ingin dapat nilai bagus, meskipun akhirnya saya tidak menggunakan kunci jawaban, maupun menjadi tim penjawab soal karena soalnya tidak kunjung datang. Ya, saya juga manusia, sangat mudah untuk tergiur dengan hal-hal seperti ini. Setelah UN selesai dan saya mencoba merefleksikannya, saya baru menyadari, betapa UN dan sistem pendidikan telah mengubah saya menjadi orang yang biadab, yang menghalalkan segala cara untuk meraih nilai tertinggi. Jujur, soal UN ini, dulu kelas saya sampai bahkan berniat membeli kunci jawaban karena takut tidak lulus. Saya tidak setuju sesungguhnya, namun saya juga sadar, tanpa kunci jawaban, lebih dari setengah murid” bisa tidak lolos, jadi saya ikut membayar. Meskipun akhirnya soal kunci jawaban ini tidak jadi, namun tetap saja, UN telah mengubah kami semua mejadi biadab, menganggap mencontek adalah hal wajar yang tidak perlu diributkan, membuat kami rela melakukan apa saja agar mendapat nilai baik, dan ironisnya, membuat sebagian besar teman-teman saya malas-malasan sebelum UN karena merasa yakin kunci jawaban akan datang. Apakah bapak pernah menyadari hal ini?
UN juga selain mengubah kami, para siswa juga mengubah para guru. Berapa banyak guru-guru yang bersekongkol membeli soal dan mengerjakannya, serta membagi jawabannya kepada para murid agar mereka lolos? Mereka tahu itu dosa, mereka hanya tidak tega kami gagal, mereka tidak tega jabatan mereka lepas dan sebagainya. Apakah Bapak Menteri tahu akan hal ini? Betapa besar tekanan yang mereka harus terima hanya karena ujian 3-4 hari saja.
Hal terakhir, pendidikan negeri ini sungguhlah belum merata. Bapak mungkin percaya kalau ada yang bilang UN itu mudah, tapi apakah bapak tahu, anak-anak dari pedalaman, anak-anak yang bukan dari kota-kota besar di Jawa, Sumatera dan Bali kesulitan mengerjakan soal-soal itu? Tahukan keterbatasan buku di daerah-daerah terpencil? Tahukah kalau guru-guru yang mengajar kami kemampuannya belum memadai, bahkan ada guru yang ketika disuruh mengerjakan soal UN juga berkata kalau dia tidak bisa? Sadarkah akan hal itu? Hal-hal seperti inilah yang justru memancing kami para siswa membuat kecurangan. Secara kasar saya katakan, UN telah mengubah kami menjadi siswa abal-abal, yang berpikir contekan akan menyelesaikan masalah dan berpikir ilmu tidaklah penting. Sadarkah bapak kalau sistem UN saat ini membuat kami tidak menyukai belajar, membuat kami benci belajar, benci dengan para guru, dan benci dengan negeri ini? Sadarkan Bapak Menteri Pendidikan dan semua orang yang mendukung UN?
Saya, bukannya tidak setuju UN ada, menurut saya UN itu perlu, sebagai indikasi kemahiran suatu daerah. UN memang tujuannya baik kan, tapi kita perlu mengubah sistem UN dan sistem pendidikan yang ada saat ini. Seandainya tidak ada UN, saya pikir, kita semakin hancur. Berapa banyak guru yang mengajar secara asal-asalan? Saya sudah bosan melihat hal itu, melihat guru-guru yang saling menjual nilai dan soal ujian, yang dengan sengaja membuat nilai seorang anak rendah hanya karena anak tersebut memilih untuk tidak les kepada guru tersebut. Saya sudah bosan, melihat sistem pendidikan seperti ini. Maafkan saya, jika ada yang tersinggung, dan yang merasa tidak melakukan hal-hal seperti ini, tapi inilah kenyataan yang saya lihat, yang pernah saya rasakan. Saya sudah bosan dengan semua itu. Oleh sebab itu, saya merasa, UN tetap harus ada, namun sistem pendidikan kitalah yang harus diubah. Bukankah negara-negara maju seperti singapura dan korea selatan yang meraih peringkat 5 besar PISA juga memiliki sistem Ujian berstandar Nasional? Pertanyaannya, mengapa mereka bisa sukses sementara kita tidak? Intinya sederhana, kita hanya perlu mengubah sistem pendidikan kita, yang lebih mengarahkan kepada bakat dan kemampuan anak. Jangan sampai selamanya kita terjebak bahwa meraih nilai tertinggi berarti dialah yang terbaik :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar